Wednesday, 16 January 2013

Di Balik Layar Wayang Orang




Tepuk tangan penonton Wayang Orang BlogCamp Budhoyo gemuruh.
Kiprah Cakil yang lincah dan tehnik menghindari serangan yang dilakukan oleh Arjuno juga ciamik.
     Klimaks  perang tanding antara satria bagus dengan raksasa bergigi mancung tampaknya akan segera tiba.
Cakil yang diperankan oleh Mudhoiso tampak menarik keris dari rangkanya. Sementara Rikmo Sadhepo yang ayu gandhes pemeran Arjuno melirik sambil senyum kemayu.
Tusukan keris yang mengarah dada dapat dielakkan oleh Arjuno sambil menyabetkan selendang kearah kepala Cakil. Raksasa bertingkah pencilakan itu muntap. Dengan gerakan bringas diarahkannya keris luk 9 itu ke arah perut Arjuno. Kini satria panengah Pendowo tak buang-buang waktu. Ditangkapnya pergelangan tangan Cakil lalu diputarnya dengan ujung keris mengarah ke tubuh sang raksasa. Cakil berusaha menghindar. Sreeeeet…..ujung keris merobek leher Cakil.
Cakil menjerit keras, lalu ambruk. Arjuno meninggalkan palagan sambil tersenyum. Niyaga mengalunkan gending sampak. Layarpun diturunkan. Tepuk tangan penontonpun cethar membahana.
     Tiba-tiba
terdengar suara jeritan bersahut-sahutan dari balik layar yang tertutup.
Inspektur Suzana yang sedang menonton pagelaran wayang orang itu segera lari menuju panggung. Disingkapkannya layar. Tubuh Mudhoiso tergeletak dengan wajah membiru, matanya melotot seolah menahan sakit. Darah mengalir dari lehernya. Dirabanya nadi laki-laki berkostum Cakil itu. Tak ada denyutan lagi. Mudhoiso telah tewas.
Cerita berawal dari sini misteri di balik layar

Di bawah ini adalah lanjutan ceritanya.

 Sapu tangan yang di pegang Rikmo Sadhepo terlepas saat ia sedang membersihkan bekas-bekas riasan wajah untuk memerankan Arjuno. Rikmo terdiam mendengar suara-suara teriakan yang menyebutkan Mudhoiso atau Cakil benar-benar tewas di tangannya.

Awalnya Rikmo ingin lari dari tuduhan yang akan mengarah kepadanya, ia sudah mempersiapkan mobil untuk melarikan diri. Ia sadar apa yang sudah dilakukannya.
Namun, sebelum dia pergi, Sukoco yang bertugas mempersiapkan alat-alat pagelaran wayang orang di blogcamp sudah menghampiri, menahannya.

“Kau, harus jelaskan apa yang terjadi. Saya yakin pisau yang kita gunakan untuk pertunjukan ini adalah palsu, karena saya sendiri yang membelinya di pasar abang. Kau, kau..tidak menggantinya, kan?” terbata-bata Sukoco meminta penjelasan dari Rikmo.
“Kau, bisa di tahan atas dasar pembunuhan terencana, Rikmo, kau tau itu!” Sekoco masih melanjutkan interogasi pribadinya sambil melihat-lihat ke arah pintu, takut-takut ada yang melihat dan mendengar perbincangan mereka.

“Co, apa kau pikir aku bisa bertindak sebodoh itu? Membunuh tanpa sebab, aku tidak tahu apa-apa! Aku tidak tahu, kau jangan menuduhku sembarangan.”
Sekoco nampak ketakutan dengan keterangan dari Rikmo, bukan tidak mungkin tuduhan atas kematian Mudhoiso justru akan menyeretnya masuk ke penjara, walaupun dia tetap merasa tidak bersalah, karena dia yakin pisau-pisau yang dia beli tidak berbahaya untuk digunakan sebagai properti pertunjukkan.
Sementara Sukoco menunjukkan ketakutan, Rikmo merasa tenang-tenang saja.

Tidak lama datang beberapa kru pertunjukkan wayang beserta Inspektur Suzana. Rikmo sempat mengkerut melihat inspektur yang gagah itu, dia memandang sang inspektur dari ujung kepala sampai kekaki, tidak berani memandang lagi. Hatinya berkecamuk memikirka apa yang akan terjadi, apakah dia mengaku saja, menyerahkan diri, atau membela kebenaran sampai mati, sampai semua orang tau, siapa pembunuh sebenarnya.

“Kalian sudah tau apa yang terjadi?” Tanya sang inspektur tanpa basa basi.
Rikmo dan Sukoco mengangguk bersamaan.
“Mayat Mudhoiso sudah dibawa kerumah sakit untuk di autopsi, semua penonton sedang dimintai keterangan sebagai saksi beserta semua kru yang terlibat. Terutama, kau Rikmo, kau harus ikut saya ke kantor polisi untuk memberikan keterangan.”
“Baik, pak” tanpa membantah Rikmo mengiyakan dengan sikap tenang. “Dan kau juga Sukoco”.

Dua hari setelah pemeriksaan, Rikmo, Sukoco dan Antonio yang berkebangsaan Belanda yang sekaligus sebagai sutradara wayang terpaksa di tahan. Mereka bertiga wajib bertanggung jawab atas kematian Mudhoiso di atas panggung dari hasil cerita wayang yang menjadi kenyataan.
Hasil aotopsi belum keluar. Tapi kematian Mudhoiso membuktikan ada pembunuhan terencana yang sudah di susun rapi dengan latar belakang pertunjukkan wayang. Polisi masih mengusut tentang hal itu, keterangan yang diberikan Rikmo tidak bisa dijadikan alas an bahwa dia adalah pembunuhnya, walapun semua saksi mengatakan bahwa memang Rikmo yang menyayat leher Mudhoiso di atas panggung. Dan Rikmo berdalih, bisa saja dia di jebak sebagai tersangka, untuk sementara polisi masih mencari buktinya.

Dari pengakuan saksi-saksi dan dua tersangka yang lain juga masih sama. Cuma ada yang janggal pada keterangan seorang pemain figuran yang berperan sebagai seorang pedagang di wayang orang blogcamp budhoyo. Dan ketika saksi-saksi yang lain juga menyangsikan keterangannya.

Sebelum kejadian atau sebelum pertunjukkan dimulai, pemeran figuran yang bernama Joko baru hadir ketika yang lainnya sudah benar-benar siap naik panggung. Joko terlihat gelisah dengan tangan basah, salah satu kru bertanya, “ Habis dari mana kau, Ko?”
“Dari Toilet.” Jawabnya. Joko baru saja selesai mengasah pisau di seberang gedung, diwarung ketoprak mpok Jenny.
Namun saat Joko di tanya penyelidik, dia mengaku dari toilet karena sakit perut setelah makan ketoprak yang pedas, sama dengan jawabannya saat ditanya salah satu kru.

Namun ada saksi yang baru sadar setelah mendengar pengakuan Joko dan keterangan saksi lain.
“Saya ingat, pak, saya bertemu Joko di warung mpok Jenny membawa pisau yang baru di asah, sepertinya, saya melihatnya dari lantai 2 ketika sedang membereskan sisa perlengkapan yang akan di pakai pertunjukan waktu itu.”
Joko mengelak dengan tuduhan yang mulai mengarah kepadanya.

Namun, entah datang dari mana seseorang menyerobok masuk kedalam ruang ganti pemain yang sudah beralih fungsi menjadi ruangan pemerikasaan di gedung itu untuk  para tersangka dan saksi oleh polisi.
“Saya tau siapa otak pelaku atas kematian Mudhoiso atau Cakil ini, pak” Ujar seseorang yang baru diketahui adalah kekasih Mudhoiso. Serentak orang-orang yang ada diruangan itu menolah kepadanya.
“Saya tau..hiks.” perempuan itu hamper menangis dengan wajah menunduk.
“Coba jelaskan pada kami, apa yang terjadi sesungguhnya.” Tanya seorang polisi mewakili yang lain.

“Saat itu, sehari sebelum pertunjukan wayang orang digelar, saya dan Mudhoiso bertengkar, saya tidak pernah mau dan mengijinkan mudhoiso ikut kegiatan ini, sejak kami pacaran. Tapi mudhoiso bersikeras bahwa ikut pagelaran wayang orang adalah cita-citanya dari kecil, dia ingin melestarikan budayanya. Saya tau dan memaklumi hal itu. Tapi yang benar-benar saya tidak terima adalah dia melakukan itu, ikut menjadi bagian dari wayang orang adalah karena dia selalu tidak mengacuhkan saya. Saya kesal, pak, saya kesal..hiks.”
“Lalu..?” tanya polisi dan di ikuti oleh pandangan menunggu oleh yang lainnya.

“Lalu..saat saya ikut menemani Mudhoiso berlatih pas gladi resik, saya diam-diam menukar pisau yang dipakai Joko dengan pisau palsu yang digunakan untuk pertunjukkan wayang. Pisau itu saya letakkan di kotaknya, tidak ada yang tahu. Saya juga tidak kalau kejadiannya akan seperti ini, saya ingin Mudhoiso berhenti main wayang, saya ingin dia benar-benar berhenti.” Perempuan itu berhenti bercerita, menarik nafas sambil terisak.

“Maksud anda bagaimana, cerita anda berbelit-belit” ujar polisi lagi.
“Iya pak. Saya ingin pacar saya tidak bermain wayang lagi, saya ingin membuatnya jera dengan tuduhan telah membunuh arjuno yang sebenarnya, yaitu Rikmo. Saya sudah merekayasa semuanya dengan bantuan Cokro.”

“Jadi?”
“Saya tidak tahu isi scenario wayang, bahwa yang terbunuh seharusnya adalah arjuno, tapi ternyata..hiks. Mudhoiso-lah yang benar-benar jadi korban.”
“Aku menyesal, maafkan aku mudhoiso..”

Setelah pengakuan perempuan yang mengaku adalah kekasihnya Mudhoiso yang berperan sebagai Cakil, di tahan oleh polisi dengan tuduhan pembunuhan berencana. Polisi sudah mengusutnya kembali, namun Rikmo tetap ditahan, begitu juga Cokro.


13 comments:

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat
    Akan dicatat sebagai peserta
    Salam hangat dari Surabaya

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih pakdhe..
      sukses slalu buat pakdhe

      Delete
  2. keren keren keren ... semoga berhasil ya, mel. dan sukses juga buat pakdhe ^_^

    ReplyDelete
  3. Rikmonya tetep ditahan jg toh.. Gudlak ngontesnya ya Mel ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. yaa..kan secara tidak langsung dia yg menyayat leher cakil. tp masih di usut kok :D

      Delete
  4. Semangat2 .. meski harus muter otak untuk ngarang ceritanya, ternyata bagus juga ...
    semoga menang ya Mel,

    ReplyDelete
  5. Hahahaha
    Ada dalang wanita nich...
    Semoga sukses dalam kontes Blogcamp

    ReplyDelete
  6. Wah untuk sementara anggota wayang blogcamp ngungsi dulu di kantor polisi..
    Sukses yah mell..

    ReplyDelete
  7. Siip... akhirnya melly ikutan juga... Keren ceritanya, mel, semoga sukses ya.. :)

    ReplyDelete
  8. Semoga menang jeng. Ngom-ngom, nyari sumbernya sulit kah?

    ReplyDelete

Tinggalkan Jejakmu