Monday, 20 May 2013

Mengumpulkan Waktu Yang Tepat


Tong Sampah

Rasanya baru kemarin kita mengenal, bertukar pekerjaan rumah atau tidak sengaja bertemu dikantin sekolah. Ketika itu kamu pernah menjodohkanku dengan salah satu teman dikelasmu. Setelah kelulusan kita dari seragam putih biru kita melanjutkan ke sekolah tujuan dan minat kita masing-masing.

Lima tahun kemudian kita bertemu, aku sudah lupa denganmu. Pertemuan itu tidak disengaja, pertemuan itu ternyata membawa kenangan yang indah buatmu, pertemuan itu membuat suatu deskripsi yang berbeda olehmu. Tidak denganku, aku menganggap pertemuan itu biasa saja, tanpa makna.


Suatu hari, setelah takbir bergema dan aku asik menikmati santap lebaran, tiga tahun setelah pertemuan kita dulu. Aku menerima telpon darimu, sebuah ajakan untuk menikah. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Tawaran itu begitu tiba-tiba menjelma menjadi dilema bagiku. Saat aku masih hancur dan patah hati oleh kandasnya sebuah hubungan sebelum kamu muncul.

Aku memberikan waktu untuk kita saling mengenal, untuk kita saling memahami, untuk kita saling mengerti. Waktu yang akan memberikan jawaban apa yang ingin kuberikan padamu. Waktu juga yang sudah memutuskan. Kesabaran yang diberikan oleh waktu itu sudah menimbulkan satu beriak hangat yang memberiku harapan untukmu. Kesabaranmu untuk menungguku membuahkan hasil, dengan sebuah kalimat yang belum bisa kubenarkan. Aku mulai memikirkan jawaban dan angan hidup bersamamu. Aku mulai menghadirkan harapan untuk menerima apapun yang terjadi, aku juga sudah membuat satu jawaban. Aku tak ingin berlama-lama membuatmu menunggu.

Satu tahun lebih setelah telepon darimu dan cerita perjalanan waktu untuk kita mengetahui jawaban, aku sudah membulatkan keputusan. Ketika kamu memintaku hadir. Ketika aku ingin bilang, aku jatuh cinta padamu. Ketika itu juga kamu meninggalkanku tanpa satu katapun yang bisa kudengar.

Waktu yang kita kumpulkan tidak ada bekas dan cerita lagi. Jadi, aku pikir jatuh cinta itu memberiku satu pelajaran tentang ketulusan, tulus untuk menerima kalimat patah hati.

Saya Mendukung Kuiz Kopi Susu – Annisa Reswara” 








Photo :http://rivan-dipta.blog.fisip.uns.ac.id/2011/12/10/patah-hati-di-hari-ultahku/

9 comments:

  1. Mba, ini beneran flash fiction? :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaaaaaaaaaa *teriak dalam hati*


      bikin cerita begini aja mikirnya lama phie..gak bakat nulis FF :p

      Delete
    2. Duh, mau nyoba ikut tapi bingung ngembangin ceritanya :(

      Delete
  2. mak ikutan kuis ff kopisusu itu ya.. aku juga mau kutan, tp belom dapet ide.
    ide mak mellyana kereeeen. coba ada dialognya dikit deh, mak, jadi ceritanya lebih hidup. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. hmm..gitu ya. boleh gak ya aku edit sedikit, soalnya linknya sudah ku daftarkan :D

      makasih koreksinya mba :)

      Delete
    2. hehehehehe stuju sama mak isti :D. saya juga ikutan kuis ini lho, silakan mampir ya http://www.avife.com/laki-laki-pecinta-kopi/ :). trimakasih :)

      Delete
  3. Wuiihhh...dalem bgt ceritanya Mel :)

    ReplyDelete
  4. nice share, sob.
    sebenarnya saya sering berkunjung ke blog ini, namun baru kali ini saya berkomentar, heee
    banyak info yang saya dapatkan, terima kasih ya,

    http://samboedy.blogspot.com/search/label/online%20business

    ReplyDelete

Tinggalkan Jejakmu