Thursday, 13 November 2014

Bermanfaat Untuk Orang Lain

Menjadi seseorang yang bermanfaat untuk orang lain memang tidak semudah membalikkan telapak tangan, tapi kalau kita mau berusaha dengan niat yang tulus, pastilah ada jalannya. Sekecil apapun itu niatan yang kita punya.

Dalam sebuah tantangan, ada pertanyaan seperti ini:
"Tuliskan Bagaimana Cara Anda Memberi Manfaat Kepada Orang Banyak Tanpa Pamrih"

Bagaimana?


Saya rasa agak sulit, kadang sisi lain dalam hati kecil kita yang paling dalam ada harapan untuk mendapatkan apresiasi, walau hanya sekedar ucapan "Terima kasih" sebagai balasan apa yang sudah kita berikan.

Tapi, mungkin itu cuma pikiran kerdil saya saja. Nyatanya, banyak di belahan bumi ini, orang-orang yang dengan niatan hati yang tulus memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada orang lain tanpa meminta balasan apapun. 

Lupakan.

Saya sendiri belum bisa menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain (orang banyak), tapi saya pernah sekali berbicara didepan umum memberikan sedikit pengalaman tentang plus-minus dampak penggunanaan sosial media untuk kehidupan kita didepan teman-teman saya, dikampung, dalam acara muda mudi.
Dengan melihat fenomena pengguna sosial media yang kadang bikin geleng-geleng kepala, saya sedikit bisa menguraikan dampak dari sosial media tersebut. Ya, memang saya bukan expert dibidangnya, tapi saya mencoba, karena masih banyak teman-teman saya yang belum peduli, apa efek buruk jika kita terlalu percaya dengan sosial media yang ada di internet. Contohnya, penyalahgunaan foto, status menghina-caci-maki, dll.
Berbekal dari membaca ulasannya di internet dan obrolan bersama teman-teman selama menggunakan internet, saya berikan sedikit pengetahuan saya itu ke yang lain dikampung, apa yang boleh dan tidak boleh kita lakukan saat menggunakan sosial media.

Seperti yang saya bilang diatas, kadang hati kecil saya ingin sekali dipuji ketika bisa sharing pengetahuan tersebut. Saya ingin sekali dibilang hebat, pintar dan sebagainya. Ingin sekali nama saya disebut-sebut didepan orang banyak. Ketika saya membantu seseorang dalam hal materi rasanyapun demikian.

Tapi, saya mencoba berpikir. Oke, hati kecil memang nggak bisa bohong, tapi cukuplah kita saja yang tahu bagaimana rasanya, nggak perlu kita bercerita kepada yang lain, bahwa kita baru saja memberi tapi orang yang kita beri tak sedikitpun mengucapkan terima kasih.

Saya cuma punya satu cara, agar saya tak merasa kecil hati ketika memberikan sesuatu kepada orang lain. Agar saya tak mengharapkan balasan kecualinya dari-Nya. Yaitu, lupakan. Lupakan bahwa saya sudah pernah memberi, lupakan bahwa saya sudah mampu memberi. Dan menganggap semua itu seperti jejak langkah masa lalu yang tak mungkin bisa kembali kecuali keajaiban dari sebuah kenangan yang tak sengaja melintas. #eaaa

8 comments:

  1. Sama kayak yg mama saya bilang: Lakukan lalu lupakan.

    ReplyDelete
  2. aisshhh, kutipan kata yg terakhir berkesan bgt kayaknya mba mel :) jejak masa lalu yang mungkin kembali karna suatu keajaiban sebuah wishing kah ini ? :)

    ReplyDelete
  3. Iya, supaya ikhlas emang harus kita lupakan ya mak :)

    ReplyDelete
  4. Melly keren bangeeetttt ya, lupakan dan lupakan ketika kita sudah memberikan sesuatu manfaat kepada orang lain, lupakan seperti saat kita membuang sampah yang tak diharapkan lagi. Dalam analoginya lupakan bahwa kita tak berharap sesuatu akan balik lagi termasuk "pamrih" :)

    love u Mel

    ReplyDelete
  5. Memberi dan lupakan, kitu ceunah, nya ;)

    ReplyDelete
  6. Berarti hrs bisa belajar ikhlas y non๐Ÿ˜

    ReplyDelete
  7. Kewreeennn.. Mbak, postingan dikau nih simple tapi meaningful. Sukaaa...!

    ReplyDelete

Tinggalkan Jejakmu