Monday, 5 February 2018

Katanya Iqbaal Nggak Cocok Menjadi Dilan

 

Kamu tau nggak kenapa saya seperti tergila-gila banget sama film Dilan? Sebelumnya saya sudah membaca 3 bukunya, Dilan 1990, Dilan 1991 dan Milea (suara hati dari Dilan). Saya mungkin orang yang berlebihan dalam menanggapi cerita Dilan ini. Dari pertama membaca bukunya saya sudah suka, lalu ketika muncul sosok Iqbaal dan Vanesha saat diumumkan menjadi pemeran Dilan dan Milea, hingga sekarang filmnya yang berhasil menghasilkan hampir 4 juta penonton dalam waktu 10 hari, saya orang yang paling bahagia melihatnya, dan ikut-ikutan gemas dengan mereka yang mulai mengagumi dantergila-gila dengan Dilan. Apalagi setelah membaca postingan review yang ditulis salah satu blogger. Saya merasa nggak sendirian, seperti abege yang baru jatuh cinta melihat betapa gombal dan romantisnya Dilan dan Milea, film sederhana yang membuat senang semua orang.

Bukan karena saya haus gombalan. Tapi film Dilan ini sejatinya mengajarkan saya untuk belajar berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu, belajar untuk menerima perasaan cinta, mencintai, menyayangi dan belajar mengenali diri.

Ada sebagaian orang yang beranggapan, bahwa cerita Dilan keseluruhannya itu nggak baik, karena mengajak kita untuk nggak bisa move on dengan masa lalu. Tidak menghargai perasaan pasangan - pasanganya Milea yang diceritakan ini adalah kisah nyata- yang sekarang, karena cintanya yang terlalu berlebihan terhadap Dilan.

Tapi justru buat saya, cara Milea ini sudah tepat, ini cara dia berdamai dengan masa lalunya, dengan dirinya yang masih terkenang akan Dilan. Jika memang ini kisah nyata, Milea sudah mengeluarkan semua perasaannya lewat sebuah tulisan yang selama ini dia pendam. Kalau ada yang nggak suka, ya sudah biarkan saja. Tapi nyatanya toh, Dilan juga akhirnya membalasnya dengan tulisan dari sudut pandangnya sendiri. Tapi bagaimana akhirnya Dilan dan Milea nggak bersatu, itu karena keegoisan mereka berdua. Dan buat saya itu wajar, nggak usah dianggap terlalu berlebihan, karena dua orang yang saling mencintai, jika ditakdirkan nggak akan bersatu. Selamanya nggak akan bersatu, walaupun kuatnya mereka berusaha. Anyway, sebenarnya postingan ini bukan untuk review Novel maupun Film Dilan aja, kok. Tapi tentunya saya mau curhat sekalian. Hehe.

Kamu mungkin tau cerita kisah cinta dan hidup Ainun dan Habibi yang dijadikan buku lalu difilmkan? Menurut saya Dilan dan Milea itu seperti itu. Pak Habibi menghilangkan kesedihannya setelah ditinggal Ibu Ainun dengan tulisan. “Saya menulis untuk terapi penyembuhan” ujar Pak Habibi menjawab pertanyaan wartawan saat itu. Milea juga menerapkan hal yang sama, dia bercerita dengan tulisan untuk menghilangkan perasaan terpendamnya terhadap Dilan. Mungkin terlihat egois, khususnya untuk Milea

Tapi setiap orang punya cara-cara yang berbeda dalam menyembuhkan diri sendiri. Jadi saya setuju dan sangat menghargai keputusan Milea menceritakan kisah cintanya dengan Dilan lewat tulisan. Seperti apa yang diungkapkan tokoh Dilan di buku Milea (suara hati dari Dian).
“Aku percaya, orang yang paling egois sebenarnya adalah orang yang merasa tidak aman di dunia. Menyembunyikan emosi hanya untuk terlihat seperti baik-baik saja, padahal sesungguhnya menyimpan berjuta pikiran di kepalanya dan begitulah aku saat itu”.

Sejujurnya kalau kamu sudah membaca ketiga buku Dilan. Kamu akan paham bagaimana perasaannya Dilan dan Milea, perasaan remaja yang sedang jatuh cinta tapi akhirnya berpisah karena egoisnya mereka berdua dan akhirnya merasakan penyesalan. Dan saya pikir, perasaan-perasaan itu nggak cuma milik Dilan dan Milea saja. Coba kamu telaah lagi, adakah seseorang yang begitu melekat di hatimu, selain pasanganmu saat ini (suami-istri) dan di hatimu yang terdalam, masih ada sedikit berharap dia adalah pasanganmu yang sekarang.

Kalau kamu masih mesem-mesem nggak jelas liat Dilan dan Milea yang jatuh cinta, dan mungkin nggak suka dengan cara Milea yang menceritakan semuanya tentang Dilan. Bersiap-siaplah menerima kenyataan, ketika Milea ditinggalkan oleh Dilan (atau Milea yang meninggalkan Dilan, ya?) di film selanjutnya.
Tapi, dari sinilah saya bilang, dari cerita Dilan dan Milea ini saya belajar, untuk nggak egois.

Okeh, saatnya saya mau curhat. Sebelumnya saya mau mengutip caption di instagramnya sahabat blogger saya, Mbak Arin (@murtiyarini). “Konon, cinta itu perlu dinyatakan. Tidak melulu berharap balas, hanya biar tidak menyesal, karena dia tidak tahu aku mencintainya”
Saya termasuk orang yang punya kepribadian yang introvert, aslinya saya memang pendiam, lebih suka memendam semuanya sendiri (untuk beberapa hal saya bertahan untuk itu), nggak suka keramaian, lebih suka menikmati kesendirian di tempat sepi, nggak suka terlihat oleh orang lain. Tapi ketika saya jatuh cinta pada seseorang itu kebalikannya, saya berharap orang itu mengetahuinya. 


Dan saya mau jujur, Juli 2017 yang lalu, saya pernah mengungkapkan perasaan saya itu. Saya jatuh cinta, setelah sekian lama saya nggak merasakan itu. Gimana rasanya? Kalau kamu sedang menyukai seseorang, kamu pasti tau rasanya seperti apa. Seperti kamu menyukai Dilan, mungkin? Dan berharap Dilan itu nyata dan ada banyak stoknya di dunia ini. Hahaha..

Hah? Kamu bilang cinta? Terus gimana tanggapan lelaki itu? Ada teman saya heboh dengan apa yang saya lakukan. Kamu nembak dia??? Kok nggak banget, sih Mel, perempuan bilang cinta ke laki-laki duluan. Lanjutnya.
NO Way! Jawabku.
‘Nembak’ itu menurut saya mengungkapkan perasaan disertai ajakan untuk pacaran atau ngajak nikah. Tapi hanya sekedar bilang cinta, buat saya itu nggak masalah. Apa salahnya kita jatuh cinta dan bilang ke dia? Toh cinta itu memang nggak harus saling memiliki, kan. Yaaahh, walaupun nggak mau munafik juga, ada harapan-harapan yang dipanjatkan bahwa dia punya perasaan yang sama dengan saya (Ya, sayangnya orang yang sudah membuat saya jatuh cinta itu, justru membuat saya terluka). Dan saya bersyukur untuk itu. Setidaknya itu membuat saya sadar, dia nggak pantas buat saya. Tapi, rasanya masih sulit untuk saya benar-benar melepaskan dia dari hati saya (tsaaah). Dan saya nggak mau egois, yang nantinya membuat saya terbelenggu oleh cinta.. Hahahaha.
Jadi, harap maklum ya.. kalau saya akhirnya curhat di blog (lagi).
Apa yang saya lakukan, bukan berarti saya merendahkan diri saya sendiri, nggak menghargai diri saya sendiri. Tapi saya punya cara tersendiri untuk melepaskan semuanya, dan inilah cara saya berdamai dengan apa yang saya rasakan.

Seperti apa kata Dilan, (lagi-lagi saya setuju dengan Dilan). Kamu boleh berpendapat apa pun, tapi kondisi manusia selalu dipengaruhi oleh semua jenis dorongan, baik itu pengalaman, emosi, ego, kepriadian, dan temperamen. Hal ini membuat kita tidak sempurna dan bisa salah.



*Judul dengan isi postingan memang nggak kompak sih.

12 comments:

  1. Harga diri kita ada dalam diri kita dan tidak seorang pun dapat merendahkannya jika kita tidak mengijinkannya. Semangattttt

    ReplyDelete
  2. semangatt mba!! Masih banyak cinta yang lainn.. #eaa 😂

    ReplyDelete
  3. tidak ada salahnya kan kalau wanita menembak duluan jika sang cowok ragu, si cewek ada rasa dengannya. :D
    dylan everywhere. heheh

    ReplyDelete
  4. ini masih ada sekuelnya nanti si Dilan ini Mel?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya mbak, katanya seri Dilan akan dibuat jd 4 film.
      Sad ending tapi haha

      Delete
  5. Suka yang bagian konon cinta harus dinyatakan, tak berharap balas, supaya dia tahu saja. Tapi nanti jadinya baper sedunia dech Mel, coba saja...emang ploong, tapi kalau dia ngehrap juga trus kamunya enggak mau kek mana? eh, lupakan deccch wkwkwkwk pengalamanku sich, jadinya enggak enak banget dech. Tapi Dilan dan Millea emang gak jodoh kali, jodohnya di film, banyak yang nonton

    ReplyDelete
  6. aku gak gitu tertarik nonton dilan, mel :D

    ReplyDelete
  7. Hahhaaa, pup..puk..puk..melly, ayo cinta emang ga harus memiliki, cukup dirasakan saja..eeaaa
    yuk, yuk..cari lagi tak temenin !
    jangan nyari sosok Dilan, coba kita tanya pidi baiq ada dilan2 lain ga yang ga punya milea

    ReplyDelete

Tinggalkan Jejakmu