Friday, 21 October 2016

Serunya Melihat Behind The Scene Drama Musikal Khatulistiwa

Tim Produksi + Undangan BTS. Foto +Ani Berta 

Untuk pertama kalinya dalam hidup, saya dikasih kesempatan melihat langsung proses latihan pertunjukkan besar sebuah drama musikal yang bertajuk Khatulistiwa, Jejak Langkah Negeriku Di Gedung Nyi Ageng Serang, Jakarta, Selasa 18 Oktober 2016 kemarin. Sebuah mahakarya yang patut diapresiasi setinggi-tingginya, bagaimana seluruh tim bekerja keras agar pertunjukkan ini nantinya berjalan sukses dan lancar.

Sungguh, perjuangan mereka untuk membuat sebuah drama yang mengenang para pahlawan Indonesia ini bikin haru. Apalagi ketika saya mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyiikan saat mereka sedang latihan semalam. Rasanya perasaan itu sudah seperti saya ada di sebuah pertunjukkan nyata, bukan sekedar latihan. Lirik-liriknya yang penuh pesan dan bikin saya membayangkan seperti apa dulunya para pahlawan berjuang, agar Indonesia yang kita rasakan sekarang bisa seperti sekarang, tanpa jajahan peperangan lagi, tanpa rasa takut jika ingin belajar sesuatu, tanpa kekhawatiran lainnya. 

 Terima kasih pahlawan Indonesia.

Ada sekitar 100 talent yang ikut mendukung pertunjukkan Drama Musikal Khatulistiwa ini, dan kemarin hampir separuhnya hadir untuk ikut latihan bersama, yang mereka lakukan setiap hari Selasa dan Kamis dari jam 5 sore sampai jam 11 malam, dari anak-anak sampai dewasa. Semuanya bersemangat, saat kemarin saya datang, ada yang sedang latihan paduan suara, dialog-dialog, dan juga gerakan tarian musikal dari kelompok Animal Pop Dance, Jakarta. Saat latihan seperti itu saja, mereka butuh banyak persiapan, lantai-lantai yang tadinya bersih mereka beri tanda-tanda untuk peletakan properti dan lainnya, tapi saya lupa mereka menyebutnya apa. Saya pikir, ketika saya diundang melihat proses latihan mereka, saya hanya akan melihat kesibukan seperti itu saja. Tapi ternyata, saya diberi kesempatan menonton adegan dari sebuah babak dan beberapa cerita dari beberapa pahlawan Indonesia. Dan seriosly, ini benar-benar luar biasa.

Diantaranya, ada kisah seorang Ibu Dewi Sartika, yang diperankan oleh Mbak Sita Nursanti (RSD-Rida Sita-Dewi) sebagai perintis pendidikan di tanah Sunda, beliau diceritakan mengajar anak-anak berbahasa Belanda, bakatnya untuk menjadi pendidik sudah dia tunjukkan saat masih kecil. Ada juga perintis pendidikan lain, seorang tokoh pendidik yang sudah sangat kita kenal, Hadji Oemar Said Tjokroaminoto. Tokoh ini diperankan oleh Bang Teuku Rifnu Wikana, salah satu aktor film Indonesia yang kemampuan aktingnya tidak diragukan lagi. Bahkan saat dia memberikan sedikit kata sambutan, karakter yang dipegang itu sangat kuat. Ada Mas Ade Firman Hakim, yang kemarin sekaligus bertugas menjadi host acara, nantinya dia akan berperan menjadi Patih Jelantik, pemimpin pasukan perang melawan penjajah yang berasal dari Karangasem, Bali. Dan beberapa penokohan lain dengan pesan pesan sejarah yang bikin kita berpikir kembali, kalau saya sebutkan satu-satu, nanti nggak surprise lagi dong saat menonton dramanya di teater nanti. 

Sayangnya saya tidak melihat mereka latihan sampai akhir jam 11 malam, karena saya harus mengejar kereta ke Bogor. Tapi mengenal beberapa tim produksi dari acara ini membuat saya semakin salut, semangat juang mereka untuk mengenalkan para pahlawan-pahlawan Indonesia ini bikin saya ikut tergetar. Malu rasanya, karena masih banyak dari kita yang tidak bisa menghargai para pahlawan Indonesia.

Apalagi ketika mendengar cerita oleh Kang Asep Kambali, sejarawan, guru sejarah yang cinta banget sama budayanya. Contoh kecil kita tak menghargai para pahlawan adalah dengan merusak uang kertas bergambar pahlawan Indonesia. Di negera lain, itu dilarang, tapi di negara ini, kita bebas memperlakukan alat tukar transaksi tersebut dengan seenak jidat kita. Kita lipat-lipat, kita gambar-gambar, remas dan lainnya. Bahkan masih ada yang tidak kenal, siapa dan berasal dari mana para wajah pahlawan yang tercetak di uang keras itu. Sungguh ini menyedihkan...

Kemarin Kang Asep juga banyak banget memberikan kita pandangan baru soal sejarah, sharingnya seru, dan saya merasakan kembali seperti apa menjadi siswa yang ditanya-tanya gurunya tentang sejarah. Banyak cara kita mengenalkan sejarah dan nilai nilai luhur kepahlawanan kepada anak-anak generasi muda, agar mereka tak melupakan sejarah-sejarah Indonesia. Salah satunya dengan cara menonton drama Musikal Khatulistiwa ini tentunya.
Kisah sejarah kepahlawanan yang dikemas dengan cara unik melalui drama. Dan saya bener-bener baru tahu, mungkin dulu pernah membaca tapi sekarang lupa, bahwa kata Pahlawan itu berasal dari dua suku kata, pahala dan wan. Yang berarti orang-orang yang mendapatkan pahala (atas perjuangan mereka sebelumnya).

Selain sharing dari Kang Asep, kita kemarin juga dikenalin dengan tim produksi lain, ada Sutrada Drama Khatulistiwa, Mas Adjie N.A dari Pegho Teater yang banyak memberikan gambaran-gambaran bagaimana awalnya para pemain kesulitan bernyanyi tapi melalui proses dan latihan, belajar akhirnya mereka bisa berperan dengan baik. Karena ini drama musikal otomatis setiap adegan akan diragakan dengan musik dan bisa bernyanyi adalah syarat utama untuk mengikuti audisi drama musikal ini. Karena komunikasi dalam drama ini pun akan berirama sesuai dialognya. Merekapun menggabungkan musik tradisional dengan musik modern (barat) untuk membuat drama ini terkesan natural.

Lalu kita juga dikenalkan dengan desainer kostum (penata busana) para pemain, Mas Auguste Susastro, yang menceritakan perbedaan membuat kostum drama dengan baju biasa. Ada teknis-teknis khusus agar saat pergantian kostum para pemain tak memerlukan waktu lama. Karena dalam drama ini, beberapa pemain akan memerankan beberapa tokoh karakter juga. Di bagian penata musik, kita juga Mas Ifa Fachir, yang sebelumnya saat launching/press conference di Plaza Indonesia beberapa waktu lalu ikut hadir. Mas Ifa ini awalnya adalah anak band lho, sebelum terjun sebagai penata musik di drama ini.  Dia juga sedikit menjelaskan beberapa element saat menjadi komposer musik.
Terus kita juga dikenalin dengan tim lain, seperti Mas Jefriandi Usman dari tim penata tari/gerak para pemain. Mbak Melvi Tampubolon dari tim produser, ada juga Mas Fabie dari Sunlife Indonesia, yang mendukung penuh pembuatan Drama Khatulistiwa, Jejak Langkah Negeriku.

Mas Ade, Mbak Melvi dan Mas Fabi dari Sunlife Indonesia (ft @sifabie)
Mas Fabie, ngajakin kita semua untuk ikut menceritakan hal yang sudah kita lakukan, dan mungkin layak dijadikan pahlawan, untuk diri sendiri, saudara, teman atau yang lainnya. Kita bisa ikut kompetisinya #AksiDariHati Untuk Jejak Langkah Negeriku, di websitenya Khatulistiwa ini http://www.musikalkhatulistiwa.com/aksidarihati/

Dan jangan lupa untuk nonton pementasan dramanya tanggal 19-20 November 2016 yang akan datang, tiket nontonnya bisa dipesan Kios Tix, ajakin semua teman-teman, saudara dan semua orang yang kita kenal, untuk berkenalan kembali dengan para pahlawan negeri ini.  



8 comments:

  1. Acaranya keren ya, emang sebaiknya anak-anak dikenalkan dengan pahlawan Indonesia.

    ReplyDelete
  2. Anak-anakku pasti senang nonton ini, terutama Shafiyya yang memang hobi nari.

    ReplyDelete
  3. Waah, jd pingin nonton Meell... bagus kayaknya ituu

    ReplyDelete
  4. Waah, jd pingin nonton Meell... bagus kayaknya ituu

    ReplyDelete
  5. drama musikal gini unik, aku suka liatnya. Sayang tempatnya jauh, nggak bisa nonton hiks.

    ReplyDelete
  6. Sampai kenalan sama desainernya juga. Menyenangkan banget acaranya, Mbak Mel.

    ReplyDelete

Tinggalkan Jejakmu