Wednesday, 29 March 2017

Nostalgia Rasa Lezatnya Burung Puyuh di Alas Cobek

Burung Puyuh Goreng
Waktu kecil tinggal di kampung, saya dan teman-teman sering ikut orang tua pergi ke Ladang kalau lagi libur. Para orang tua sibuk bercocok tanam, menanam-memanen, Padi, Jagung, Kacang-kacangan, ataupun Singkong dan banyak lagi. Anak-anaknya bermain-main di pinggiran sungai atau di gubuk-gubuk kecil yang di sekelilingnya ditumbuhi aneka tanaman, Cabai, Tomat, Kencur, Kunyit dan bumbu-bumbu lain yang siap petik. Setiap hari suara-suara petani bersahut-sahutan dari balik bukit, suara-suara burung mencicit, Sapi-sapi mengemoh, bahkan ada suara Ular ikut mendesis dari balik rumput-rumput, semak atau Ilalang yang jadi penghalang menutupi jalan.

Dulu, rutinitas yang paling saya dan teman-teman senangi jika ke ladang itu adalah menceburkan diri mandi di sungai (Way Tuba) atau mencoba rafting menggunakan sebatang pohon Pisang yang kami sebut Belanting, aliran airnya saat itu jernih, dingin dan menenangkan, kadang kami sibuk mencari Kijing (kerang air tawar) atau memancing ikan, atau sekedar berjalan-jalan menikmati hamparan ladang Padi, Jagung dari atas-atas bukit. Mencari buah-buahan. Ahh, membayangkan seperti itu memang menyenangkan, masih terasa aroma romantisme anak-anak yang tanpa banyak beban pikiran.

Burung Puyuh
Ada satu lagi juga yang sangat menyenangkan, biasanya teman-teman saya yang laki-laki sering berburu/menjerat burung. Caranya itu sangat tradisional sekali, mereka akan membuat jalan setapak di antara semak-semak atau batang-batang Padi, jalan setapak yang lebarnya cukup untuk burung berjalan ini disebut Pepah, semakin panjang Pepah (jalan setapak) yang dibuat, mereka bilang semakin mudah burung akan terjerat. Biasanya yang mereka incar itu Burung Puyuh atau Burung Berbah. Macam-macam umpan yang digunakan untuk menjerat burung-burung ini, ada yang menggunakan buah Pepaya matang, atau getah buah Nangka, tujuannya, ketika burung-burung sudah memakan umpan, mereka tidak bisa lari atau terbang lagi. Karena kakinya melekat di getah atau terikat di tali-tali yang direkat. Untuk hal ini saya sebenarnya lupa, bagaimana cara mereka mengerjakannya. 

Cuma yang saya ingat dan selalu suka jika mereka mendapatkan jeratan burung, seringnya burung Puyuh yang saat itu masih banyak di alam bebas, lalu saya diajak untuk makan hasil buruan mereka. Burung-burung itu akan langsung dipotong di bawah gubuk, dibersihkan di sungai, dibumbui seadanya, lalu dipanggang atau di goreng dengan minyak yang dibawa dari rumah. Jangan tanya rasanya gimana, untuk ukuran anak kampung yang sangat jarang banget bisa makan daging atau Ayam, kecuali saat ada warga yang sedang hajatan. Burung Puyuh panggang itu sangat-sangatlah lezat, rebutan daging di tulang-tulang kecil burung Puyuh sampai nggak bersisa membuat kami semakin penasaran pengen berburu lagi.

Lezatnya Olahan Burung Puyuh Alas Cobek Yang Kaya Nutrisi

Sampai saya dewasa, rasanya jarang banget saya ketemu Burung Puyuh, apalagi sejak beberapa tahun yang lalu, saya mendapat sugesti bahwa daging unggas terutama burung Puyuh itu menyebabkan kolesterol tinggi, yang nggak baik buat kesehatan. Ternyata informasi ini salah, justru mengkonsumsi Daging Puyuh itu banyak banget manfaatnya. Salah satunya cocok banget buat yang lagi program diet, karena daging Puyuh ini lemaknya sedikit sekali, kadar kolesterolnya juga rendah, lalu kandungan proteinnya sangat tinggi, kaya nutrisi, jadi sangat baik untuk kesehatan jantung dan yang punya riwayat tekanan darah tinggi.


Nah, waktu pulang ke Lampung beberapa waktu lalu, sehabis liburan dari Pulau Pisang, saya akhirnya memberanikan diri buat mampir dan mencoba Burung Puyuh yang ada di Alas Cobek janjian makan siang bareng sama Mbak Katerina yang kebetulan lagi ada di Bandar Lampung dan Vita Rinda. Alas Cobek ini sebuah rumah makan yang khusus menghidangkan olahan Bebek dan Burung Puyuh. Taglinenya aja Jagonya Burung Puyuh dan Bebek, Warisan Nusantara. Mampir ke resto ini benar-benar menjadi nostalgia buat saya. Kenapa dinamakan Alas Cobek? Karena penyajian menu-menu yang dihidangkan menggunakan alas cobek. Cobek itu arti lain dari ulekan sambal.

Rinda, Om Senafal, Saya dan Mbak Rien.
Kopdar kedua sama Vita Rinda :D
Restoran yang berdiri sejak Desember 2014 ini letaknya ada di Jalan Wolter Monginsidi No. 66 Bandar Lampung. Lokasi yang sangat strategis sebenarnya, karena ada di tengah kota dan posisinya di pinggir jalan, jadi mudah buat pengunjung yang mau datang ke sini. Tapi saya baru punya kesempatan untuk menikmati lezatnya Burung Puyuh di Alas Cobek itu baru sekarang itu. Padahal sudah sering juga disuruh mampir sama pemiliknya, Om Zaki Senafal. Dan lagi, karena nggak punya kendaraan sendiri, agak repot buat saya datang ke Alas Cobek, karena angkot yang melewati Jl. Wolter Monginsidi ini hanya satu arah, tapi untungnya ada Bus Trans Lampung jurusan Korpri - Sukaraja yang lewat jalan itu, jadi saya bisa turun pas di depan Alas Cobek. Atau seperti sekarang yang nggak perlu repot-repot lagi cari kendaraan umum, karena sudah banyak transportasi online yang beroperasi di Bandar Lampung, seperti HappyJek, SigerJek, OkeYay dll, kita tinggal pesan melalui aplikasi untuk keliling Bandar Lampung buat mencicipi aneka kuliner dan mencari oleh-olehnya. Atau ke tempat-tempat wisata dalam kota. Pokoknya sudah gampang banget deh.


Nah, ada menu apa saja di Alas Cobek ini, ya? Menunya sih nggak banyak, tapi yang jadi favoritenya itu tuh varian sambalnya. Kemarin itu saya pesan Burung Puyuh doubel yang isinya dua ekor Burung Puyuh plus sambal Sawang. Sambal Sawang ini yang paling laris, katanya. Karena tingkat kepedasannya membuat orang ketagihan. Selain Sambal Sawang, ada juga Sambal Ijo, Sambal Tomat dan Sambal Maintem.
Burung Puyuh yang disajikan disini digoreng garing, jadi ketika dimakan rasanya renyah, tulang-tulangnya pun bisa digigit. Ada pula menu Bebek dan Ayam atau Ikan, kita bisa bisa memesan sesuai selera saja sih. Plus untuk sayurannya Alas Cobek juga menyediakan menu Cah Kangkung, Cah Toge, terus apa lagi ya? Saya hampir lupa. Tapi seriosly saya suka banget sama Burung Puyuhnya karena bikin saya bernostalgia banget. Dan untuk minumannya tersedia aneka jus buah, karena saat itu saya hanya pesan satu menu dan teh tawar hangat, jadi menunya nggak banyak yang difoto, pun Mbak Rien dan Rinda begitu juga. Jadi maafkan ya kalau fotonya sedikit.


Karena Alas Cobek ini rumah makan, bukan kafe, jadi memang kurang cocok untuk sekedar nongkrong sambil minum kopi. Tapi, saat saya kesana, saya cukup betah berlama-lama duduk di sana sambil ngopi dan ngobrol, duduk di bangku luarnya, apalagi sehabis hujan, udaranya sejuk, dan dari kejauhan saya bisa melihat Teluk Lampung. Tempatnya juga nyaman, luas, terbuka dan lega. Nanti kapan-kapan saya mau ke sana lagi.

Rinda, Om Senafal dan Saya Foto dari Mbak Katerina

Info tentang kandungan gizi Burung Puyuh:
http://www.organisasi.org/1970/01/isi-kandungan-gizi-daging-burung-puyuh-goreng-komposisi-nutrisi-bahan-makanan.html
http://www.vemale.com/kesehatan/74643-kandungan-gizi-pada-daging-burung-puyuh.html
http://www.getaransehat.com/2016/03/manfaat-dan-khasiat-daging-puyuh-yang-luar-biasa.html
https://alapuyuh.wordpress.com/2011/03/28/why-daging-burung-puyuh-khasiatnya/

3 comments:

  1. Insya Allah ke sana ah. Mau nyobain juga menunya, kayaknya asyik tempatnya.

    ReplyDelete
  2. Belum pernah nyobain makan burung, tapi penasaran hehe

    ReplyDelete
  3. sedap.. cuma kalau pengolahan burung puyuh yang gak tepat dagingnya kadang alot dan berbau. Aku suka kalo dimasak asam manis nih Mel.

    ReplyDelete

Tinggalkan Jejakmu