Thursday, 26 April 2012

Perempuan, Daerah dan Kesehatan

Siang ini (27/04) saya membaca sebuah Hot Thread di @kaskus. Judulnya, " Rossy Tedjaningsih, Pejuang Kesehatan di Pedalaman." setelah masuk ke thread yang berupa artikel tulisannya, judul aslinya adalah " Dokter Perempuan di Pedalaman Kalimantan".

Di sana terdapat sebuah gambar, wanita dengan seragam dokternya sedang memeriksa mulut seorang anak kecil. Saya merasa tersentuh dengan berita itu, dan sejujurnya saya sangat ingin sekali seperti dr. Rossy. Hidup mengabdi untuk rakyat menanggalkan semua atribut mewah dan perkotaan, demi membantu kesehatan, kesejahteraan warga yang di pedalaman tempat dia bertugas. Pengabdiannya untuk sesama, dan perjuangannya menjadikan puskesmas di daerah terpencil menjadi sebuah puskesmas favorite di daerah Kalimantan, dan juga menjadi seorang dokter teladan dengan gebrakannya untuk memenuhi semua kebutuhan kesehatan di puskesmas.

Di bawah pimpinannya, puskesmas di pedalaman jadi puskesmas teladan provinsi.


Menurutku, inilah seorang Kartini sejati dalam bidang kesehatan, seorang dokter yang benar-benar mengabdi dan mencurahkan seluruh ilmu yang dia dapat untuk kesehatan warga di sekitarnya. 



Untuk artikel selengkapnya bisa di baca di sini : Dr. Rossy Tedjaningsih, Pejuang Kesehatan di Pedalaman

Atau saya copy paste beritanya di sini :

VIVAnews - Tak pernah terlintas di kepala dr Rossy Tedjaningsih bekerja di Puskesmas di pedalaman Kalimantan Barat. Semuanya berawal dari tahun 2004 silam, saat lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha, Bandung, diwajibkan menjadi dokter pegawai tidak tetap (PTT) di Puskesmas Sungai Ayak, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat.

Sebagai perempuan yang tumbuh di kota besar macam Bandung, menjadi dokter di pedalaman ini jelas jauh dari bayangannya. Saat pertama kali bertugas, Rossy harus menerima kenyataan listrik hanya menyala dari Maghrib sampai pagi. Baru sejak 2010, listrik menyala sepanjang hari.

Kerap, di malam hari sekali pun, listrik mati. Rossy pun berkreasi, menyiapkan lampu darurat yang dibelinya di Kota Pontianak.

Setahun berjalan, tahun 2005, Rossy pun mengikuti penerimaan pegawai negeri sipil di lingkungan pemerintahan Kabupaten Sekadau yang memisahkan diri dari Kabupaten Sanggau. Rossy lulus serta bertugas di Sungai Ayak hingga sekarang.

“Saya bangga mengabdi untuk masyakat kecil di daerah pedalaman terpencil ini sekarang. Walaupun selalu saja dapat hambatan, akan tetapi hal itu tidak menjadi masalah bagi saya. Saya ikhlas dengan semua ini,” tuturnya, saat berbincang dengan VIVAnews.

Rossy sempat ditawari pindah ke kecamatan Teraju yang lebih maju kondisinya daripada Sungai Ayak. Namun tidak ada penggantinya di Sungai Ayak membuat dia bertahan. Maklum, Sungai Ayak ini susah dicapai dari pusat kabupaten.

Pelan-pelan, Rossy mengubah imej Puskesmas Sungai Ayak. Jika dulu tidak ada fasilitas rawat inap, Rossy pun mengadakannya. Kesan kumuh dan tak berpenghuni diubah dengan memberikan pelayanan yang lebih baik dan dengan hati.

Kini, justru Puskesmas yang dipimpinnya menjadi favorit warga kecamatan lain untuk berobat karena fasilitas yang dimilikinya.

Pelayanan di rawat inap pada masa itu tentulah dikerjakan sendiri karena keterbatasan tenaga perawat, namun hal tersebut bukanlah halangan. “Masyarakat umumnya sebelum diberlakukan rawat inap di puskesmas, lebih senang dilayani di rumah dan bahkan tak jarang meminta untuk keluar kota seperti ke daerah yang jauh dari akses. Meskipun ada beberapa petugas yang bertugas karena sepi mereka lebih memilih untuk ikut bertugas di Sungai Ayak," kata Rossy.

Kini, fasilitas rawat inapnya juga menjadi favorit ibu-ibu yang hendak melahirkan. Sebagai seorang perempuan, Rossy tahu kebutuhan apa saja yang harus dilengkapi puskesmas agar ibu-ibu bersedia melahirkan di puskesmas.

Dan gebrakan Rossy mendapat ganjaran. Tahun 2009, Puskesmas Sungai Ayak menyabet juara I untuk kategori puskesmas terbaik se-Kalimantan barat. Pada 2011 lalu, Dr Rossy Tedjaningsih mewakili Kabupaten Sekadau sebagai kandidat dokter teladan tingkat propinsi.

Dan kemajuan Sungai Ayak bukan hanya pada pelayanan rumah sakit. Akses jalan yang tadinya susah dan sulit sekarang menjadi lancar. Sungai Ayak pun berubah jadi tujuan bagi tenaga kesehatan muda untuk bekerja.
Mungkin masih banyak wanita-wanita Indonesia yang seperti Dr. Rossy Tedjaningsih, mengabdikan dirinya untuk negara, untuk rakyat yang kekurangan fasilitas kesehatan, terutama di daerah-daerah pedalaman, terpencil.  Menjadi promotor inspirasi bagi dokter-dokter yang lainnya dalam hal kesehatan, tidak melulu mendahulukan materi, tidak perduli siapa yang berobat kepadanya, tidak perduli dimana dia tinggal, tidak perduli dimana dia bertugas. Pengabdian seperti ini patut menjadi teladan untuk kita semua.


Tulisan ini ditulis untuk mengikuti lomba blog yang diselenggarakan oleh Liza Fathiariani dan disponsori oleh Blogdetik , Kamoe Publishing Forum Lingkar Pena Aceh , Piyoh Design , Rise Up Coffeehouse, Kedai Bandar Buku, falyadesign.com | Your Design Partner”

1 comment:

Tinggalkan Jejakmu