Saturday, 15 August 2020

Masihkah Koperasi Menjadi Andalan?

Setiap kali ada ngomongin soal Koperasi, saya pasti akan selalu ingat semasa kecil dulu. Entah mengapa menyebut koperasi itu terasa seperti sedang bernostalgia. Sepertinya hidup kami saat itu nggak bisa lepas dari yang namanya Koperasi. Saya ingat banget, nggak jauh dari rumah Ibu ada satu gedung yang cukup besar (tembok semen) di antara rumah-rumah kami yang ada di kampung yang rata-rata masih berdinding bambu (geribik), namanya Kantor KUD (Koperasi Unit Desa). Dulu kantor KUD itu punya fungsi yang beragam, terutama dalam menyediakan barang-barang kebutuhan warga yang sehari-harinya berprofesi sebagai petani. Barang-barang tersebut kebanyakan alat dan bahan untuk mendukung pertanian, seperti Pupuk, Bibit dan lainnya.

koperasi
Koperasi, gambar dr kompasiana

Ada petugas khusus yang berjaga setiap hari, dan warga punya kartu anggota untuk bisa membeli barang-barang yang ada di sana dengan cara berhutang/mencicil, istilahnya pinjam di koperasi. Mereka membeli barang dengan cara mencicil di Koperasi, para warga akan membayar setelah musim panen tiba. Tanpa Koperasi, rasanya warga sangatlah sulit untuk bisa membeli atau mendapatkan kebutuhan itu. Menurut saya Koperasi itu sangat-sangat membantu sekali dalam menjalankan perekonomian warga. Saya juga jadi ingat, dulu Ibu saya juga pernah meminjam uang untuk modal usaha dagangnya dari koperasi keliling (yang baru saya tau sekarang kalau itu adalah disebut rentenir) karena bunganya yang sangat tinggi.

Sampai sekarangpun sepertinya Koperasi masih punya peranan penting untuk membantu usaha setiap masyarakat yang membutuhkan modal atau keperluan lainnya. 

Tapi sebenarnya, masihkah Koperasi Menjadi Andalan?

Ini menarik banget, karena pertanyaan itu menjadi topik atau tema webinar yang saya ikuti hari Kamis (13/08) lalu, yang diselenggarakan oleh Indonesian Consortium for Cooperative Innovation (ICCI).

Kalau dilihat-lihat, koperasi memang masih menjadi andalan masyarakat karena visi misi yang masih berlandaskan gotong royong, satu budaya yang sudah melekat dan nggak bisa lepas di masyarakat Indonesia. Sesama anggotanya masih saling dukung untuk memperkuat pertumbuhan ekonomi, terutama di masyarakat yang menjalankan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM).

Hadir di webinar kemarin itu sebagai narasumber adalah; Bapak Teten Masduki (Menteri Koperasi dan UMKM), Firdaus Putra (EC ICCI), Rully Nuryanto (Deputi Bidang Kelembagaan Kementrian Koperasi), Ahmad Zabadi (Deputi Bidang Pengawasan Kementrian Koperasi), Ceppy Y Mulyana (Ketua KSP Sahabat Mitra Sejati) dan juga Bapak Sugeng Priyono ( Direktur Operational Koperasi Mitra Dhuafa). Webinar kemarin itu dipandu pula oleh moderator Mbak Anis dari Inke Maries Associates.

peran koperasi di era digital
 

Webinar yang berjalan selama 3 jam tersebut dilatarbelakagi dari berbagai praktika koperasi yang memberikan catatan dari media masa. Banyak sekali menjelaskan dan mengingatkan kita semua apa pentingnya Koperasi di era trend digital seperti sekarang, banyak masukan dan juga pemaparan apa saja yang sudah dilakukan Kementrian Koperasi dan UMKM serta bagaimana gagasan ke depannya pemerintah menjalankan koperasi.

Dari jejak pendapat atau survey yang dilakukan dari 2 ribu lebih respoden berpartisipasi, menghasilkan persepsi dari masyarakat terhadap Koperasi, orang Indonesia melihat Koperasi sebagai Usaha Bersama, Simpan Pinjam, Gotong Royong, Kewirasusahaan dan juga Demokrasi Ekonomi.

Mungkin ada yang belum tau apa itu Koperasi? Menurut UUD, definisi Koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar atas asas kekeluargaan. Sedangkan menurut ICA (International co operatove Aliance) Koperasi merupakan himpunan org2 yg bersatu secara sukarela dan otonom dlm rangka mencukupi kebutuhan dan aspirasi sosial, ekonomi da budaya secara bersma melalui perusahaan yang dimiliki bersama dan dikelola secara demokratis.

Koperasi sendiri mempunyai 3 peran yang sangat penting;

  • Lembaga Ekonomi, pengelolaan usaha secara progesional yg memberikan manfaat ekonomi bangi anggota
  • Lembaga Sosial, Memposisikan anggota sebagai modal sosial utk mencapai kesejahteraan bersama dan dikelola secara demokratis. Keaktifan anggota sangat berperan penting untuk menjalankan lembaga ini.
  • Lembaga Pendidikan, membudayakan pendidikan pelatihan dan transfer informasi dalam kehidupan berkoperasi anggotanya.

Menurut Bapak Firdaus dari ICCI, saat ini Koperasi masih mempunyai peminat yang sangat tinggi. Dan sektor UMKM itu paling banyak mengakses layanan koperasi ini karena dapat mendukung usaha rintisan mereka. Namun di tengah trend digital, koperasi juga dihadapkan pada tantangan bagaimana koperasi ini bisa tetap berjalan dan menjangkau kebutuhan seluruh masyarakat, sehingga  punya dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi.

Era digital ini tentu saya mempunyai banyak peluang bagi koperasi agar lebih luas lagi jangkauannya ke masyarakat.

Untuk itulah komitmen dan keaktifan anggota sangat penting dalam menjalankan koperasi. Mata rantai bisnis koperasi pun harus berjalan berkesinambungan dari masalah saving, loan dan juga menyediakan marketplace yang bisa digunakan oleh anggotanya untuk bisa lebih luas lagi memasakan produk dan serta jasa layanan yang dikelola mereka.



 



No comments:

Post a comment

Terima Kasih - @melfeyadin