Sunday, 20 December 2020

Kenali 5 Potensi Prestasi Generasi Maju Anak Indonesia

Anak-anak Indonesia adalah aset masa depan bangsa yang seharusnya sudah dipersiapkan untuk mewujudkan Generasi Emas Indonesia di tahun 2045 nanti. Namun dari data Riskedas 2018, tercatat satu dari tiga anak Indonesia yang berusia di bawah lima tahun mengalami anemia. Di mana 50 - 60% yang mengalami anemia ini disebabkan oleh kekurangan zat besi. Jika tidak ditangani dengan baik masalah ini, tentu saja akan menganggu dan menghambat kemajuan negara. Yang kita tau masa depan bangsa dan negara ditentukan oleh anak-anak ini nantinya.
 
anak generasi maju
Anak Indonesia. cr: Artem Beliaikin (pexels)

Seperti yang disampaikan oleh Bapak Arif Mujahidin (Corporate Communication Director Danone Indonesia) pada acara Webinar yang saya ikuti, yang digelar pada hari Kamis (17/12) lalu dengan tema, "Kekurangan Zat Besi Sebagai Isu Kesehatan Nasional di Indonesia dan Dampaknya Terhadap Kemajuan Anak Generasi Maju", bahwa tercapai atau tidaknya mimpi bangsa terkait Generasi Emas 2045 nanti, ditentukan oleh kualitas  anak-anak yang saat ini masih balita. Kekurangan zat besi ini menjadi ancaman  serius negara dalam upaya untuk mewujudkan Indonesia maju. Indonesia memiliki mimpi, dan kualitas faktor anak-anak Indonesia adalah faktor kunci untuk membentuk Generasi Emas 2045. 


webinar
Webinar bersama Danone Indonesia

Jadi untuk memastikan anak-anak Indonesia maju dan berprestasi ke depannya, menjadi tanggung jawab bukan oleh orang tuanya saja, tapi kita semua bersama-sama saling mendorong mewujudkannya. Memberikan perhatian khusus untuk memastikan dan memenuhi asupan gizi dan nutrisi yang diserap oleh anak.

Salah satu yang cara untuk membantu adalah memberi pengetahuan dan mendorong pemahaman kepada masyarakat mengenai kekurangan zat besi pada anak.

Kekurangan Zat Besi berdampak terhadap tumbuh kembang anak.

Mengapa zat besi ini penting bagi tumbuh kembang anak? Menurut dr. Nurul Ratna (Dokter Spesialis Gizi Klinik), zat besi ini memiliki peran yang sangat penting pada tubuh anak, terutama dalam mendukung tumbuh kembangnya. Asupan zat besi yang tidak kuat dapat menyebabkan menurunnya kecerdasan fungsi otak dan fungsi motorik pada anak. Dan efek jangka panjangnya bisa berakibat menurunnya performa si anak dalam kehidupannya ke depan. Tanpa zat besi, organ-organ tubuh mengalami gangguan karena tubuh tidak cukup mendapatkan oksigen, tentu saja hal ini menganggu tumbuh kembang anak, baik secara kognitif, fisik hingga sosial.

Dampak jangka panjang pada anak kekurangan zat besi menjadi masalah kesehatan bangsa. Indonesia sampai saat ini masih terperangkap oleh anemia, salah satunya karena defisiensi zat besi. Oleh karenanya mulai dari sekarang kita harus bisa mencegah masalah anemia dan kekurangan zat besi.

Kita sudah harus memperhatikan pemenuhan asupan zat besi ini mulai dari ibu hamil yang mengandung janin. Bila ibu hamil mengalami anemia, anaknya pun setelah lahir akan beresiko terkena anemia. Di tahun 2013, jumlah ibu hamil yang anemia angkanya mencapai 37,1% dan meningkat pada 2018 hingga sebesar 48.9%.

Hal ini bisa terjadi karena beberapa faktor, seperti kuranngnya pengetahuan tentang anemia, atau usia ibu hamil yang masih terlalu muda, dan juga beberapa faktor lainnya.

Pada anak-anak harus terpenuhi zat besi sejak masih, dimulai pada saat anak mengenal makanan pendamping asi (MPASI), anak-anak mengalami masa krisis terjadinya anemia pada usia 6 bulan sampai 3 tahun. Di usia inilah anak-anak mengalami pertumbuhan syaraf otak. Kebutuhan akan zat besi yang meningkat namun pemenuhannya masih kurang.

Sementara di dunia 47% anak mengalami anemia. 50-60 % karna defisiensi zat besi. Artinya kebutuhan zat besi ini bisa dipenuhi dengan atau dari konsumsi makanan sehari-hari. Anak-anak di Indonesia sendiri mengalami anemia paling banyak di usia 1-2 tahun.

Anemia ini jg menjadi masalah global, tapi yang paling perlu perhatian tentu saja ada pada anak-anak Indonesia. Bila dari sekarang defisiensi zat besi tidak terpenuhi, dampak jangka panjangnya akan terasa di masa depan.

Kita bisa melihat dampaknya kekurangan zat besi pada ibu hamil dan anak seperti berikut:

Dampak pada ibu hamil:
- Kelahiran prematur
- Berat badan lahir anak rendah
- Mudah lelah, letih dan lesu
- Komplikasi pendarahan saat persalinan
- Keluhan pd jantung dan pembuluh darah (palpilasi/berdebar, tensi menurun)
- Pembesaran otot jantung

Kekurangan zat besi pada anak akan berdampak pada dua hal;

Dampak jangka pendek bila anak kekurangan zat besi;
- menurunnya kognitif/kecerdasan
- menurunnya fungsi otak (atensi,pendengaran, visual)
- menurunnya fungsi motorik, mudah capek, letih lesu.

Dan untuk jangka panjangnya bila kekurangan zat besi pada anak akan terasa pada;
- Performa di sekolah akan menurun, seperti kemampuang berhitung, membaca, menulis dan kemampuan berbahasanya menjadi berkurang.
- Perubahan atensi dan sosial berkurang karena anak kurang tanggap terhadap lingkungan sekitar.
- Perubahan prilaku, dalam hal ini anak menjadi kurang aktif bergerak, kurang atensi, kurang responsif, tidak ceria, dan mudah lelah.

Dilihat dari dampak jangka pendek dan jangka panjang kekurangan zat besi pada anak tentu jelas menjadi masalah untuk masa depan anak Indonesia ke depannya.

Oleh karenanya penting untuk kita memperhatikan untuk memenuhi zat besi pada anak. Karena zat besi punya peran penting dalam untuk membentuk anak Indonesia menjadi lebih baik.

- Zat besi berperan menjadi pembentuk komponon (protein, lemak) myelin saraf otak. Membantu pembentukan dan fungsi neurotransmitter di otak. Zat besi merupakan kofaktor enzim dan transporter serotonim, domain, dan norepinefrin.
- Zat besi membantu perkembangan motorik pd anak.
- Mendukung perkembangan perilaku dan emosi pd anak.

Lalu bagaimana cara kita dapat mengidentifikasi anak atau kita sendiri mengalami anemia, kekurangan zat besi. Dilihat dr sisi klinis, anak akan mengalami cepet lelah, pusing, pucat dan pika. Pika ini kebiasaan mengunyah atau makan benda tertentu. Dan bila dilihat di laboratorium, kita akan tau bahwa kadarHemoglobin (HB) menurun, bila ini terjadi cadangan zat besi (feritin) pun tentu saja menurun.

Penyebab kekurangan zat besi pada anak bisa diketahui dari beberapa hal berikut:

- Terlambat memperkenalkan mpasi pd anak
- Pola konsumsi kurang asupan protein, terutama sumber hewani
- Kurang konsumsi fortifikasi zat besi dalam makanan dan formula pertumbuhan.
- Pemberian suplemen zat besi yang tidak sesuai
- Tidak patuh minum suplemen karena keluhan mual atau tidak suka.
- Penyerapan zat besi yang tidak optimal.

Harus ada upaya untuk melakukan pencegahan kekurangan zat besi. Pertama kita dapat melakukan uji saring pemeriksaan hemoglobin, jika kadar hemoglobin diketahui, kemudian memperbaiki konsumsi makanan sebagai sumber makanan zat besi, seperti dari hewani dan tumbuhan. Juga mengkonsumsi makanan dan minuman yang difortifikasi zat besi.

Bahan Makanan Sumber Zat Besi untuk Anak:

Dari Hewani: hati ayam atau hati sapi, daging merah, bisa dari sapi dan kambing, kuning telur, daging unggas, ayam atau bebek, ikan, dan seafood seperti udang, tiram.

Dari nabati: bisa didapatkan dari kacang-kacangan, seperti kedelai, kacang hijau, kacang merah, sayuran hijau, dan juga biji-bijian.

nutrisi anak
Nutrisi cr. pexels

Ada beberapa nutritent lain yang diperlukan untuk membantu penyerapan zat besi pada anak.
- Protein
- Asam arkorbat (vitamin c) dari sayur dan buah
- Kuprum (bagian dr mineral)
- Vitamin B6, B12, asam folat
- Seng

Faktor pembentuk untuk meningkatkan penyerapan zat besi pada anak bisa didapatkan dari Asam (askorbat atau vitamin c, sirat. laktat), zat ini bisa didapatkan dari gula alami seperti dari buah-buahan, sayuran, daging merah, unggas dan ikan dan susu pertumbuhan yang difortifikasi. Vitamin C untuk anak ini juga penting, karena dapat membantu tubuh menyerap zat besi dengan baik.
Untuk faktor penghambat penyerapan zat besi sendiri bisa terjadi oleh makanan yang kita konsumsi juga, seperti dari minuman yang mengandung tannin (kopi dan teh), asam oksalat (berry, coklat, teh), fitat, serat, fosvitin (dalam kuning telur) mineral lainnya (Seng, kalsium, magnesiun, fosfor, dll)

Mengoptimalkan zat besi untuk tumbuh kembang anak.

Kekurangan zat besi bisa dicegah dengan memberikan asupan makanan yang kaya akan nutrisi yang mengandung zat besi untuk membantu tumbuh kembang anak. Namun bagaimana kita bisa mengoptimalkan perkembangan anak, bukan hanya dari nutrisi saja. Menurut Anna Surti Ariani. S.Psi, M.Psi (Psikolog Anak dan Keluarga), kekurangan zat besi tidak hanya berdampak pada pertumbuhan tapi berdampak juga pada perkembangan anak. Kondisi ini tentu menghambat kemampuan anak dalam berkonsentrasi. Jika daya konsentrasinya terganggu, maka kemampuannya dalam berkembangpun menjadi terganggu,

Dari 3 aspek tumbuh kembang anak di bawah ini.
- Kognitif -bahasa (berpikir cepat)
Ketika bicara bahasa, kita bisa berpikir cepat
- Emosi - sosial ( percaya diri, aktif bersosialisai, tangguh)
ketika kita bicara emosi
- Fisik - motorik (tumbuh tinggi)

5 Potensi Prestasi Anak Generasi Maju

Anak generasi maju dan berikut 5 potensi prestasi tumbuh kembang anak yang bisa dicapai bila zat gizi anak terpenuhi sejak dini.

  1. Berpikir Cepat, kemampuan anak untuk mengolah suatu informasi secara mendalam, kritis dan kreatif dan cerdas secara cepat dan tepat.
  2. Aktif bersosialisasi, kemampuan anak berinteraksi dengan orang lain dengan menampilkan keterampilan sosialnya.
  3. Tumbuh Tinggi, perkembangan tubuh anak menjadi tinggi, kuat sigap, fleksibel, luwes dan lincah.
  4. Percaya Diri, kemampuan anak tentang dirinya meningkat, bukan tentang kesukaannya tampil di depan orang lain, tapi lebih kemampuan diri dalam banyak hal.
  5. Tangguh, kemampuan anak untuk mengatasi stress pada situasi menantang.

Apa yang terjadi bila 5 potensi prestasi tadi tidak tercapai? Anak mudah terdistraksi, pelupa, lambat untuk memahami sesuatu, mudah tertipu dan pikirannya tertutup untuk menerima sesuatu. Mudah lelah, canggung, pemalu, mudah cemas, ragu-ragu, minder, kesepian, sulit beradaptasi, dan banyak hambatan lainnya.

Dampak yang terlihat kekurangan zat besi pada psikologis anak: tumbuh kembang anak terhambat,  kualitas tidur bermasalah, kecerdasan tak optimal, resiko lebih besar mengalami kesehatan mental dan akan mudah marah karena emosinya tidak terkontrol.

5 potensi prestasi
pic. anak generasi maju

Stimulasi meningkatkan anak generasi maju dan 5 potensi prestasi.

Untuk itu penting untuk melakukan stimulasi bersama anak untuk meningkatkan tumbuh kembangnya. Lakukan stimulasi untuk berpikir cepat, seperti ajari anak bicara dengan lebih jelas, perbanyak lagi kosakata dengan membaca buku dan mengajak mengobrol, ajak anak untuk bermain teka teki.

Untuk menstimulasi tumbuh tinggi pada anak pastikan gizi anak tercukupi termasuk zat besi yang diperlukan. Berikan ruang aman pada anak untuk aktif bergerak, seperti membuat rumah ramah anak, dan perbanyak kesempatan untuk melakukan aktivitas fisik.

Lakukan juga stimulasi untuk meningkatkan kepercayaan diri pada anak dengan memberikan kesempatan anak untuk memilih sesuatu. Jangan ragu untuk memberikan pujian ketika si anak menunjukkan perilaku baik, berikan pujian spesifik atas pekerjaan yang sudah mereka lakukan. Dan berikan juga kesempatan untuk melatih kemampuan anak dalam merawat diri, mandi sendiri, dll.

Dalam melakukan stimulasi anak untuk aktif bersosialisasi, bisa gunakan bahasa utama dalam keseharian saat berkomunikasi dengan anak dan keluarga. Dengarkan dan beri respon posifit saat anak berinteraksi dengan orang lain. Ajak anak melakukan aktivitas permainan pretend play atau roleplay.

Anak juga perlu stimulasi agar ia tangguh, beri kesempatan anak untuk berusaha sendiri, terutama ketika menghadapi situasi atau tugas yang menantangnya di luar kebiasaannya atau sulit baginya. Jadi contoh pribadi untuk tdak mudah menyerah berani mencoba dan menggunakan akal sehat saat terjadi masalah. Berikan berikan apresiasi ketika mereka berhasil melewatinya.

Untuk itulah untuk tumbuh kembang yang optimal anak membutuhkan nutrisi lengkap termasuk zat besi dan stimulasi yang tepat.

Seperti yang disampaikan Alyssa Soebandono dan Tya Ariestya, ibu-ibu muda yang juga seorang aktris, yang ikut membagikan pengalamanannya menjadi orang tua, yang saat ini tantangannya lumayan berat karena proses belajar mengajar yang mengharuskan anak-anak sekolah melakukan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Alyssa memastikan untuk memberi perhatian penuh kepada anak untuk bisa berkonsentrasi saat sedang belajar dan juga mendampinginya dengan memberikan asupan gizi yang cukup. 

Danone Specialized Nutrition (SN) Indonesia juga ingin para orang tua untuk memberikan perhatikan khusus dalam memastikan hak anak untuk mendapatkan kebutuhan gizi mereka, termasuk zat besi yang penting bagi anak, sudah terserap dan terpenuhi dengan baik. Dan menyediakan platform daring untuk membantu orang tua untuk bisa melakukan tes risiko terjadinya kekurangan zat besi pada anak melalui situs Generasi Maju www.generasimaju.co.id 

Di situs ini orang tua bisa menemukan kumpulan artikel terkait topik nutrisi yang dibutuhkan, tips-tips dalam mendukung tumbuh kembang anak, termasuk kekurangan zat besi itu sendiri, dan bagaimana cara mengatasinya.

No comments:

Post a comment

Terima Kasih - @melfeyadin