Friday, 11 September 2020

Ngemil Jangan Dijadikan Pelarian

Kamu tau? Saat ingin memulai membuat postingan ini, saya sedang menahan hasrat yang begitu kuat untuk nggak ngemil sambil ngetik. Teman-teman yang kebetulan membaca postingan yang pekerjaan sama seperti saya, menjadi blogger, yang setiap harinya mungkin berada di depan laptop itu, pastinya nggak afdol rasanya kalau nggak ada camilan di meja, jadi kalau nggak sambil ngemilin makanan itu rasanya nggak asik, seperti ada yang kurang, mulut rasanya ingin ngunyah terus. 

cara bijak ngemil
camilan

Apalagi di masa pandemi seperti sekarang, yang setiap harinya berada di rumah terus, ada rasa bosan juga yang berhari-hari bekerja di depan laptop, ngemil seakan menjadi hiburan yang mampu membangkitkan mood untuk bisa beraktivitas lagi atau melanjutkan pekerjaan lainnya. 

Tapi sebenarnya keseringan ngemil itu baik nggak sih? Terus bagaimana caranya ngemil yang bijak agar tetap aman dan nggak berlebihan? 

Nah, ini menarik sih, karena beberapa waktu lalu saya punya kesempatan untuk mendapatkan banyak sekali pengetahuan baru tentang ngemil bijak dari webinar yang saya ikuti, yang diselenggarakan oleh Mondelez International bekerjasama dengan Komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN), salah satu perusahaan makanan terbesar di dunia. Ada banyak brand-brand makanan ringan Mondelez yang sudah masuk ke Indonesia yang namanya pastinya sudah nggak asing lagi di telinga dan lidah kita, seperti Oreo, Ritz, Belvita, dan beberapa brand lainnya.

Mondelez sendiri punya visi untuk menginspirasi masyarakat untuk ngemil lebih bijak lagi. Dengan membagikan tips-tips kebiasaan ngemil yang baik untuk tubuh. #NgemilBijak ini pula menjadi tema yang dipilih dalam webinar kemarin itu.

Karena seperti yang saya bilang tadi, di masa pandemi sekarang ini banyak keluarga yang akhirnya lebih banyak menghabiskan waktu di rumah aja untuk mengurangi penyebaran dan terpapar virus. Karena setiap harinya di rumah terus dan aktivitas yang dikerjakan hampir monoton itu-itu saja, berakibat stress membuat kita jadi sering ngemil untuk membuang rasa bosan selama di rumah.

Yup, karena seringnya ngemil dijadikan pelarian ketika kita lagi merasa bosan, stress dan bingung mau ngapain lagi selain cari makanan di kulkas atau membuat sesuatu di dapur dan dicemilin. Seperti yang kita tau, faktanya makanan itu mampu meningkatkan hormon serotonin atau hormon kebahagiaan. Dari salah satu sumber yang saya baca, Serotonin ini berfungsi untuk mengatur suasana hati, mencegah depresi dan membuat kita bahagia. Untuk membangkitkan hormon ini salah satunya dengan mengonsumsi makanan selain berolah raga.

Perilaku ngemil yang sering tak terkendali ini lama-lama akan menjadi habit, kalau nggak dikendalikan secara bijak, lambat laun pastinya akan mempengaruhi kesehatan di dalam diri kita, muncul penyakit yang mungkin nggak kita sadari pelan-pelan menggerogoti, apalagi jika cemilan yang kita makan tersebut bukan cemilan sehat.

Sementara selama ini, kebiasaan ngemil ini seringnya diidentikkan negatif, padahal jika kita tau triknya, kita bisa mengubah kebiasaan ngemil ini secara bijak.

Sebentar, sebenarnya apa sih Ngemil Bijak itu?

Ngemil bijak ini menjadi sebuah kampanye positif untuk mengajak masyarakat Indonesia untuk bisa lebih sadar dan bijak lagi dalam melakukan kebiasaan ngemil. Kita juga tau kan, masyarakat kita tuh suka sekali ngemil, setiap kumpul-kumpul dengan teman atau sedang ada acara keluarga tertentu, yang dicari pasti cemilan untuk menemani obrolan. Oleh karenanya kita jadi sering nggak menyadari makanan yang kita konsumsi itu memenuhi keinginan kita untuk ngemil atau bukan. Pokoknya mah makan, mungkin begitu istilahnya. Makanya topik webinar kemarin itu relevan banget dengan orang Indonesia.

Nah, lalu bagaimana sih tips untuk menerapkan #NgemilBijak itu di kehidupan kita sehari-hari? Biar kita mengontrol diri. Kuncinya ketika harus ngemil kita pun harus sadar untuk mengetahui kebutuhan di dalam tubuh kita. 

ngemil

Berikut 5 step makan dan ngemil yang benar, yang perlu kita perhatikan.

  1. Cek sinyal tubuh, ketahui keinginan ngemil karena lapar atau hanya emosional saja
  2. Relaksasi, turunkan emosi naikkan logika, apakah ngemil ini sesuai keinginan kita.
  3. Mindful eating dan snacking, fungsikan 5 indra untuk mengenali dan merasakan camilan yang kita makan.
  4. Tunggu sebentar, jika sudah mengetahui keinginan yang kita rasakan, tunggu sebentar untuk melanjutkan ngemil atau tidak.
  5. Bersyukur, syukuri apapun makanan yang sudah masuk ke dalam tubuh kita.

Singkatnya berikut 3 tips #NgemilBijak yang saya dapatkan dari penjelasan Mbak Tara De Thours (Psikolog Klinis) yang menjadi salah satu narasumber webinar.

  1. Kenali isyarat tubuh, mengapa ada keinginan ngemil dalam diri kita. Apa karena dari rasa lapar, atau hanya karena ingin mengurangi rasa bosan dan ingin mengembalikan mood?
  2. Kemudian kita bisa memilih camilan yang tepat berdasarkan isyarat tubuh yang kita rasakan. Jika sudah tau, perhatikan juga porsi camilan yang kita makan dan waktu ketika kita ingin ngemil.
  3. Selanjutnya perhatikan bagaimana cara kita ngemil, maksimalkan semua indra untuk merasakan camilan yang kita makan, fokus hanya untuk ngemil. Dengan begitu kita akan tahu kapan waktu yang tepat untuk berhenti ngemil.

Jika sudah memahami bagaimana seharusnya menerapkan ngemil bijak ini dalam diri kita. Kita juga bisa membenahi aktivitas ngemil dalam keluarga. Terutama buat para orang tua, ibu rumah tangga. Karena di dalam keluarga biasanya yang mengendalikan anggota keluarga dan anak-anak yang suka sekali jajan atau makan camilan, mengatur dan membuat makanan di rumah adalah seorang Ibu. Peran keluarga sangat penting untuk mengendalikan kebiasaan ngemil di rumah.

Dimulai dari orang tua, karena berdasarkan uji survey, 92% responden mengatakan, camilan yang diberikan orang tua cenderung kepada anak-anak. Ntah itu camilan favorit atau kebiasaan ngemil yang dilakukan.

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Ngemil Bijak yang diadakan oleh Ibu-Ibu Doyan Nulis” dengan menyertakan tautan https://bit.ly/lombablogngemilbijak 


 

No comments:

Post a comment

Terima Kasih - @melfeyadin