Waktu saya masih SD sepatu itu
menjadi barang yang sangat berharga untuk saya miliki. Setiap tahunnya saya
mempunyai sepatu itu dari hasil pemberian saudara dari Kota, sepatu bekas.
Tapi, yang namanya sepatu dari orang kota, walaupun mereka menyebutnya sudah
bekas, sepatu itu masih sangat berfungsi dengan baik untuk di gunakan oleh
orang-orang kampong yang nggak mampu seperti keluarga saya dulu.
Jangankan untuk membeli sepatu,
buku tulis saja saya memakai bekas pemberian saudaraku . Ah, sebenarnya untuk
mengingat semua kekurangan dalam hal ekonomi saat saya masih anak-anak dulu,
sungguh bikin hati sesak. Bagaimana bisa saya hidup seperti itu? dari mana
sepatu-sepatu dan buku-buku tulis dan bacaan yang saya miliki itu? Yang saya
tau Ibu menyediakannya dengan senyum terbuka, “Nak..sepatu ini masih bagus.
Muat nggak sama kamu?”. “Nak..buku tulis ini baru sedikit yang di pakai..masih
bisa di tulis nih”.
Sampai saya kelas 2 SMP, saya
masih menggunakan salah satu sepatu ‘bekas’ untuk di pakai ke sekolah yang
jaraknya lebih dari 7km, yang kadang naik sepeda kadang jalan kaki. Memang sih,
saya pernah membeli sepatu baru waktu kelas 5 SD, tapi sepatu baru itu yang
seharga Rp. 7.500,- saat itu, kualitasnya kurang bagus jadi cepet rusak, belum
lagi harganya yang lumayan mahal untuk kantong ibu saya. Jadi, saya membeli
sepatu itu sisa uang bayaran sekolah dari beasiswa yang saya dapatkan.
