Setiap kali ada ngomongin soal Koperasi, saya pasti akan selalu ingat semasa kecil dulu. Entah mengapa menyebut koperasi itu terasa seperti sedang bernostalgia. Sepertinya hidup kami saat itu nggak bisa lepas dari yang namanya Koperasi. Saya ingat banget, nggak jauh dari rumah Ibu ada satu gedung yang cukup besar (tembok semen) di antara rumah-rumah kami yang ada di kampung yang rata-rata masih berdinding bambu (geribik), namanya Kantor KUD (Koperasi Unit Desa). Dulu kantor KUD itu punya fungsi yang beragam, terutama dalam menyediakan barang-barang kebutuhan warga yang sehari-harinya berprofesi sebagai petani. Barang-barang tersebut kebanyakan alat dan bahan untuk mendukung pertanian, seperti Pupuk, Bibit dan lainnya.
![]() |
| Koperasi, gambar dr kompasiana |
Ada petugas khusus yang berjaga setiap hari, dan warga punya kartu anggota untuk bisa membeli barang-barang yang ada di sana dengan cara berhutang/mencicil, istilahnya pinjam di koperasi. Mereka membeli barang dengan cara mencicil di Koperasi, para warga akan membayar setelah musim panen tiba. Tanpa Koperasi, rasanya warga sangatlah sulit untuk bisa membeli atau mendapatkan kebutuhan itu. Menurut saya Koperasi itu sangat-sangat membantu sekali dalam menjalankan perekonomian warga. Saya juga jadi ingat, dulu Ibu saya juga pernah meminjam uang untuk modal usaha dagangnya dari koperasi keliling (yang baru saya tau sekarang kalau itu adalah disebut rentenir) karena bunganya yang sangat tinggi.








